Spanyol, yang datang sebagai salah satu favorit juara, mendominasi penuh pertandingan dengan 74% penguasaan bola dan melepaskan 27 tembakan, namun gagal mencetak gol . Statistik ini menjadi catatan buruk bagi Spanyol, menyamai rekor mereka sendiri sejak 1966 untuk jumlah tembakan terbanyak dalam pertandingan Piala Dunia tanpa menghasilkan gol.
Pahlawan kemenangan Tanjung Verde adalah kiper veteran mereka yang berusia 40 tahun, Vozinha. Dengan 7 penyelamatan gemilang, termasuk beberapa penyelamatan krusial di akhir babak pertama, ia menjadi tembok kokoh yang menggagalkan semua usaha Spanyol.
Vozinha bukan hanya pahlawan di lapangan, tetapi juga fenomena media sosial pengikut Instagramnya melonjak dari 20.000 menjadi lebih dari 2 juta hanya dalam beberapa jam setelah pertandingan. Penampilannya membuat para penggemar dan komentator, termasuk Lee Dixon dari ITV, terharu hingga menangis . Bek Tanjung Verde juga luar biasa, mencatatkan 45 sapuan untuk mengamankan area pertahanan mereka.
Pertandingan yang digelar di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta ini disaksikan oleh 67.640 penonton . Meskipun mayoritas penonton mendukung Spanyol, sorak-sorai paling meriah justru datang dari suporter Tanjung Verde yang hadir.
Mereka merayakan setiap penyelamatan Vozinha seolah-olah itu adalah gol, dan euforia meledak setelah peluit panjang dibunyikan. Para pemain berlari ke arah pendukung mereka untuk merayakan momen bersejarah ini, dan perayaan berlanjut di lorong-lorong stadion dengan nyanyian dan tarian.
Ini bukan sekadar hasil imbang; ini adalah pernyataan bahwa dalam sepak bola, semangat dan ketahanan bisa mengalahkan segalanya.(**)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar